Ayu An Putri Salim

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

   Aug 26

Kota Ukirku…

jepara

Saya adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang berasal dari Jepara. Jepara adalah salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Di Jepara sendiri memiliki budaya yang bermacam-macam. Selain itu Jepara juga memiliki beberapa ciri khas dan makanan. Selanjutnya saya akan membahas lebih lengkap lagi tentang budaya, makanan, dan ciri khas kota asal saya yakni Jepara.

  1. Budaya

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Berikut ini adalah budaya yang ada di Jepara.

  1. Perang Obor

Upacara ini berdasarkan legenda Ki Gemblong dan Kyai Babadan. Saat itu Ki Gemblong dipercaya oleh Kyai Babadan untuk merawat dan memelihara ternaknya. Namun Ki Gemblong tidak bisa menjaga kepercayaan Kyai Babadan dan menelantarkan ternaknya sehingga sakit dan mati kemudian timbullah peperangan. Mereka menggunakan obor yang terbuat dari pelepah kelapa dan pisang. Tanpa diduga, benturan kedua obor menimbulkan percikan api yang terkena di tumpukan. Ternak yang awalnya sakit tiba-tiba menjadi sembuh.

Tradisi perang obor diadakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada hari senin pahing malam selasa pon di bulan Dzulhijah. Tradisi ini dimiliki oleh masyarakat kabupaten Jepara, khususnya desa tegalsambi Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara. Obor pada upacara ini terbuat dari gulungan atau bundelan pelepah kelapa dan di dalamnya diisi pelepah pisang kering yang disebut klaras kemudian dinyalakan dengan api. Obor ini digunakan sebagai alat untuk saling menyerang.

Pada saat ini perang obor upacara tradisional Perang Obor dipergunakan untuk sarana Sedekah Bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat, Hidayah serta taufikNya kepada warga Desa Tegal Sambi.

  1. Tradisi Kupatan(Lomban)

Istilah lomban diambil dari kata “lomba-lomba” tapi ada juga yang menyatakan bahwa lomban diambil dari kata “lelumban”. Artinya tetap sama yaitu bersenang-senang. Pada saat itu masyarakat nelayan bersenang-senang melaksanakan lomba-lomba. Pesta lomban ini dahulu milik masyarakat nelayan namun seiring berjalannya waktu menjadi milik seluruh masyarakat Jepara. Pesta lomban ini diadakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri dengan melarung kepala kerbau ke tengah lautan.

Pesta lomban juga disertai dengan tradisi kupatan. Ketupat sendiri adalah jenis makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus oleh daun kelapa muda atau janur. Ketupat ini merupakan bentuk simbolisasi yang bermakna hati putih yang dimiliki oleh seseorang yang kembali suci. Ketupat biasanya disajikan dengan opor. Selain ketupat biasanya juga ada lepet. Lepet terbuat dari ketan dan kelapa yang juga dibungkus oleh daun kelapa muda atau janur.

Tujuan diadakannya tradisi kupatan(lomban) ini sebagai bentuk nyata peran Pemerintah Kabupaten Jepara dalam melestarikan budaya lokal Jepara, sebagai salah satu bentuk kearifan lokal Jepara sekaligus event untuk mempromosikan wisata budaya yang dimiliki Kabupaten Jepara.

2. Makanan

Jepara memiliki makanan khas tersendiri yang dilestarikan secara turun menurun oleh masyarakat Jepara antara lain:

  1. Horog-Horog

Horog-horog adalah makanan ringan yang terbuat dari tepung pohon area. Horog-horoghanya bisa ditemui di daerah Jepara saja. Bagi masyarakat Jepara, horog-horog merupakan sumber karbohidrat pengganti nasi yang umumnya dimakan dengan sayur pecel, sate kikil, soto, bakso.

Horog-horog berbentuk butiran-butiran kecil seperti busa styrofoam yang kenyal dengan rasa sedikit asin. Tepung aren ini setelah dibersihkan kemudian dikukus hingga matang. untuk membuat tekstur kenyal horog-horog harus didinginkan terlebih dahulu. Para pembuat horog-horog dari Jepara biasanya memperoleh pohon aren dari luar daerah.

  1. Pindang Serani

Pindang serani adalah jenis makanan utama masyarakat Jepara yang biasanya dibuat dari ikan bandeng ataupun ikan kembung yang dimasak menggunakan bumbu rempah-rempah khusus.

Selain rasanya lezat, pindang serani juga mengandung gizi yang tinggi. Rempah-rempah khusus menimbulkan perpaduan rasa pedas, asam, dan gurih. Penyajiannya biasa dilengkapi dengan nasi putih ataupun lalapan.

  1. Adon-Adon Coro

Adon-adon coro adalah minuman tradisional khas Jepara berupa jamu yang divampur dengan rempah-rempah. Rempah-rempah yang digunakan antara lain merica bubuk, kayu manis, cengkeh, lengkuas.

Minuman ini berasa pedas dan hangat, hampir mirip dengan wedang ronde, tetapi bedanya adon-adon coro menggunakan gula jawa merah dan santan dalam pembuatannya. Adon-adon coro dipatok dengan harga yang cukup murah dan mudah ditemukan di sekitar Jepara Shopping Center.

3. Ciri Khas

Jepara dikenal sebagai kota ukir karena sebagian besar penduduknya memiliki mebel ukir. Mebel ukir dari Jepara sudah terkenal sampai luar negeri.             Masyarakat Jepara pandai membuat ukiran dan kreatif dalam memanfaatkan bahan baku yang ada di daerahnya sendiri untuk dibuat menjadi kerajinan. Industri mebel, kerajinan patung dan ukiran ini termasuk home industry.

Selain itu, Jepara juga terkenal dengan tenun ikat trosonya. Tenun ini dibuat oleh masyarakat di daerah Troso. Terbuat dari kain yang ditenun dari helaian benang yang sudah dicelupkan ke pewarna alami. Proses pembuatannya menggunakan alat tenun bukan mesin.

Ciri khas Jepara yang lain adalah Jepara merupakan kota kelahiran tokoh emansipasi wanita bernama R.A. Kartini. Berkat perjuangan beliau, kaum wanita dapat mengembangkan dirinya dan mendapatkan kebebasan hingga masa kini.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *